Tausiyah3 menit baca

Sejarah Islam di Kotawaringin Timur dan Sampit

Perjalanan masuk dan berkembangnya Islam di Bumi Kotawaringin Timur, dari masa Kesultanan Banjar hingga sekarang.

Oleh Abdur Rasyid Shidiq25 Juli 2026

Bismillahirrahmanirrahim.. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebagai anak Sampit, kadang kita lupa. Bahwa daerah yang kita pijak ini punya sejarah panjang. Bahwa Islam di Bumi Tambun Bungai ini sudah berakar jauh sebelum kita lahir. Bahwa perjuangan menegakkan kalimatullah di tanah ini sudah dimulai oleh mereka yang lebih dulu sampai. Dan kita adalah penyambungnya. Atau sebaliknya , pemutus rantai. Mari sejenak melihat ke belakang.

Masuknya Islam ke Kalimantan

Islam masuk ke Kalimantan melalui jalur perdagangan abad ke-16. Para pedagang Melayu dan Bugis yang sudah memeluk Islam berinteraksi dengan masyarakat lokal. Prosesnya damai. Lewat pernikahan, lewat perdagangan, lewat dakwah bil hal (keteladanan). Kesultanan Banjar (1526-1860) menjadi pusat penyebaran Islam di Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur. Dari Banjarmasin, para ulama dan mubaligh menyusuri sungai-sungai besar seperti Barito, Kahayan, Kapuas, Mentaya , menyebarkan Islam ke pedalaman. Sampit, yang terletak di sepanjang Sungai Mentaya, menjadi salah satu titik persinggahan penting. Para ulama datang, mengajarkan Islam kepada masyarakat Dayak yang masih menganut kepercayaan leluhur. Prosesnya tidak instan. Butuh puluhan bahkan ratusan tahun.

Peran Syarif dan Ulama

Salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di Kotim adalah Syarif Abdurrahman Al-Qadri dan para habib lainnya. Mereka datang dari Hadramaut, singgah di Banjarmasin, lalu menyebar ke berbagai daerah termasuk Sampit. Dakwah mereka lebih mudah diterima karena pendekatan kekeluargaan dan keteladanan akhlak. Selain itu, pondok-pondok pesantren yang didirikan di sepanjang aliran Sungai Mentaya juga berperan besar. Sayangnya, banyak catatan sejarah yang hilang. Tidak terdokumentasi dengan baik. Inilah yang kadang membuat kita , generasi sekarang, tidak tahu betapa besarnya jasa para pendahulu.

Islam di Kotim Hari Ini

Menurut data Kementerian Agama, mayoritas penduduk Kotawaringin Timur beragama Islam. Berbagai organisasi Islam hadir di sini. Ada NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, LDII, dan lainnya. Masing-masing punya corak dakwah yang berbeda. Tapi bukankah perbedaan bukanlah penghalang untuk bersama-sama menegakkan kebaikan? Di Sampit sendiri, berbagai majelis taklim dan pengajian rutin terus berjalan. Masjid Raya Sampit menjadi pusat kegiatan keislaman. Anak-anak muda mulai bangkit, mengadakan kajian-kajian yang relevan dengan zaman. Tapi tentu masih banyak yang perlu dibenahi.

Pelajaran untuk Kita

Allah berfirman dalam Al Quran:
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Para pendahulu kita telah berjuang menyebarkan Islam di Bumi Kotim dengan segala keterbatasan. Mereka tak punya HP. Tak punya internet. Tak punya jalan aspal. Tapi semangat mereka luar biasa. Kita hari ini pun segalanya serba mudah. Tapi apakah kita lebih baik dari mereka? Atau justru sebaliknya? Pertanyaan ini mungkin tak perlu dijawab dengan lisan. Cukup dijawab dengan amal. Sejarah mencatat perjuangan orang-orang sebelum kita. Sejarah juga akan mencatat apa yang kita lakukan hari ini. Maka, jadilah bagian dari sejarah yang baik. Jadilah pemuda yang meneruskan estafet dakwah di Bumi Tambun Bungai ini. Baca juga: Pemuda Muslim Kalteng: Tantangan dan Harapan dan Siapa Abdur Rasyid Shidiq? Wallahu a'lam bish-shawab..
Sumber referensi: - Buku "Sejarah Dakwah Islam di Kalimantan" (Tahir, 2022 - Data Kementerian Agama Kab. Kotawaringin Timur - Catatan perjalanan penulis Saudaramu, Abdur Rasyid Shidiq Putra Sampit, 25 Juli 2026 ~Rancak-rancak maja lah wal! ^_^~